-->

Label

good (2) wisata (2)

Minggu, 13 Februari 2011

Warga Satu Dusun Miliki Tiga Jari Tangan & Kaki

JAKARTA - Pemandangan aneh terlihat di Dusun Ulutawe, Desa Mario, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Puluhan warga kampung tersebut menderita kelainan fisik pada jari kaki dan tangan.

Kelainan tersebut tak hanya menimpa orang dewasa tapi juga anak-anak. Mereka hanya memiliki tiga ruas jari tangan dan tiga ruas jari kaki. Antara ibu jari dan telunjuk terbelah dan satu jari lagi kelihatan kecil, sehingga kalau digunakan menjepit seperti kepiting.

Kepala Divisi P2M Dinas Kesehatan Kabupaten Bone Siti Aisyah menyatakan kelainan fisik warga Dusun Ulutawe akibat faktor genetik dari nenek moyang mereka. “Itu bukan peyakit, ini namanya gen, tak bisa dicegah,” ungkapnya, Rabu (9/2/2011).

Mare, salah seorang warga Dusun Ulutawe mengakui kelainan fisik yang dideritanya merupakan bawaan lahir. “Dari Bapak,” ujarnya singkat saat ditanya mengenai awal mula kelainan bentuk fisik jari tangan dan kakinya.

 

 

Bocah 2 Tahun Disunat Jin?

 

SURABAYA - Percaya boleh tidak, namun inilah yang dialami seorang bocah 2,6 tahun. Orangtua mengklaim anaknya disunat oleh jin. Peristiwa ini menimpa Yuniar Nando Marsya Pratama bayi, putra pasangan Mohammad Yuniarto dan Marniati.

Ceritanya, Selasa, 8 Februari malam, sekira pukul 21.00 WIB, Nando sedang tidur di kamar depan bersama ibunya Marniati. Saat tertidur tiba-tiba Nando bangun dan ke luar rumah. Tak lama kemudian Nando masuk ke rumah lagi.

Merasa curiga dengan kelakuan Nando, Yuniarto menanyakan perihal tingkah laku aneh anaknya.

Alangkah terkejutnya saat orangtua melihat kemaluan Nando sudah berubah bentuknya layaknya disunat. Orangtua pun bertanya-tanya ke tetangga sekitar tentang kejadian tersebut.

“Kata tetangga-tetangga, Nando disunat sama jin. Bagaimana mau tidak percaya, lha wong faktanya begitu,” kata Yuniarto, Rabu (9/2/2011).

Kejadiannnya begitu singkat. Bahkan sang Ibu pun tidak mengetahui perubahan yang terjadi pada kemaluan Nando.

Oleh orangtuanya, Nando dibawa ke pemuka agama yang tinggal di sekitar rumah mereka di Jalan Ambengan Batu, DKA, Surabaya. Kyai itu pun membenarkan jika Nando telah disunat oleh jin.

Sayangnya hingga kini Nando belum dibawa ke dokter. Orangtua merasa belum perlu memeriksakan Nando secara medis. “Anaknya bermain seperti biasa kok. Tidak mengeluhkan sakit. Kencingnya normal seperti biasa,” jelas Yuniarto.

Penyakit Aneh, Perut Ibu Ini Bergerak-gerak

 

SUKABUMI - Seorang ibu di Sukabumi, Jawa Barat, menderita penyakit aneh pada perutnya. Keluarga meyakini ada makhluk halus yang masuk di dalam tubuh Marian.

Kendati sudah berobat selama 20 tahun, namun penyakit perempuan 42 tahun itu belum dapat dipastikan secara medis.

Warga Kampung Tugu, Desa Cipendeuy, Kecamatan Surade, Sukabumi ini hanya bisa mengerang saat perutnya bergerak-gerak seperti ada mahluk atau benda aneh.

Menurut suami korban, Ajat (50), Senin (7/2/2011), penyakit tersebut awal kali muncul setelah istrinya melakukan persalinan anak kelima. Entah apa yang ada dalam perutnya namun setiap kali perutnya bergerak-gerak seperti ada makhluk sejeni ular atau benda keras.

Bahkan tak jarang, Marian mengerang kesakitan. Dalam kondisi kesakitan, bagian dalam perut menyembul dan bergerak kencang disertai teriakan dan seperti halnya orang kerasukan.

Berbagai cara penyembuhan sudah dilakukan keluarga baik medis ke dokter maupun paranormal. Untuk menyebuhkan penyakit tersebut, Ajat mengakui seluruh hartanya sudah habis. Hanya tersisa sebuah rumah panggung dengan kondisi memprihatinkan.

Soleter, dokter di Puskesmas Buniwangi mengaku tidak menemukan benda aneh dalam diri pasien. Bahkan tensi darah dan hasil pemeriksaan, Marian dinyatakan sehat.

Menurut Soleter kondisi Marian lebih disebabkan pisikis. Namun dia mengaku belum bisa memberikan jenis dan nama penyakit tersebut.

Rencananya pihak puskesmas akan segera merujuk korban ke RSUD Sekarwangi siang ini. Diharapkan dalam pemeriksaan medis secara modern dapat diketahui jenis penyakit tersebut. Namun hingga saat ini keluarga mengaku tak mampu menanggung biaya pengobatan selaman berada di rumah sakit.

Kuburan Warga Sumenep Meledak

SUMENEP - Salah satu kuburan yang ada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Marengan Laok, Kecamatan Kalianget, Sumenep, Madura, meledak. Belum diketahui secara pasti ledakan diakibatkan oleh apa. Cuma yang pasti, tanah dan nisan makam porak peranda.

Adapun yang meledak tersebut, merupakan kuburan dari almarhumah Dewi Atikan yang meninggal sejak 1989 yang lalu. Kini, makam yang meledak tersebut masih dalam proses perbaikan oleh pihak keluarga almarhumah.

Yanto (60), warga Desa Marengan Laok, menceritakan, kuburan meledak dini hari saat sebagian warga masih terlelap tidur. Saat itu, dia mendengar suara yang mirip seperti ban mobil meletus dan menganggap tidak ada hal yang aneh. Namun, saat ditelusuri asal suara ledakan ternyata berasal dari salah satu makam. “Ternyata berasal dari salah satu kuburan yang ada di makam sini. Saat dicek lebih lanjut, ternyata dari makamna Dewi Atika,” ujarnya.

Yanto yang juga sesepuh desa setempat, mengaku tidak menyangka kalau kuburan tersebut meledak. Menurutnya, sekitar areal kuburan sangat bagus yakni ada batu nisan yang terbuat dari batu onix, serta dikelilingi dengan batu paving. Kuburan sendiri pernah diperbaiki oleh pihak keluarga, sekira 7 tahun yang lalu.

Praktis, adanya ledakan tersebut menurut Yanto, mengundang rasa penasaran warga sekitar. Apalagi, kuburan yang ada di sekelilingnya masih tetap utuh, hanya kuburan almarhumah saja yang berantakan. Nisan dan kijing yang terbuat dari batu onix, sudah tidak utuh lagi.

“Kejadian ini tergolong aneh. Padahal di sebelahnya ada kuburan keluarganya, tapi kenapa hanya satu kuburan yang rusak dan meledak dengan kondisi nisan hancur,” urainya.

Yanto sendiri mengaku tidak tahu secara pasti kenapa kuburan bisa meledak.  Apakah ini sebuah pertanda tertentu, atau karena kondisi tanah yang labil, juga masih belum diketahui secara pasti.

“Kami hanya sebatas mengimbau agar warga tidak mengaitkan kejadian ini dengan hal yang di luar akal, karena bisa mengarah pada perbuatan yang syirik,” ungkapnya.

Sementara ayah almarhumah Dewi Atika, Marsukni Dahlan mengatakan, kejadian tersebut tidak diperkirakan karena penguapan tanah saja. Dia meminta agar masyarakat sekitar tidak terlalu berlebihan menanggapi kejadian tersebut, karena bisa menjadi hal yang tidak masuk akal.

Dia berjanji akan segera melakukan perbaikan kuburan, yang awalnya hanya terbuat dari ubi, diubah ke batu onyx. “Kami sudah membeli bahan material, untuk segera memperbaiki kuburan anak saya,” ucapnya.

4 Nenek di Rawasari Mogok Makan & Jahit Mulut

JAKARTA – Sebanyak empat perempuan tua warga RT 16/09, Rawasari Selatan, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, melakukan aksi mogok makan dan jahit mulut menolak pembangunan apartemen D’Green Pramuka.
Dari empat orang tersebut, dua di antaranya mogok makan sejak Sabtu 12 Februari pukul 00.00 WIB yakni Kardinah (54) dan Mak Buyung (56). Sedangkan dua warga lainnya nekat menjahit mulut pada dinihari tadi adalah Lusi (53) dan Eet (45).

“Aksi mogok makan dan jahit mulut ini sebagai wujud penolakan atas pembangunan apartemen D’Green Pramuka. Kita melakukan aksi nekat karena yang kita hadapi orang gila,” kata seorang warga, Feri (50), di lokasi kejadian, Minggu (13/2/2011).

Menurut dia, aksi yang dilakukan empat orang nenek tersebut dilakukan secara sukarela tanpa ada paksaan. Mereka merasa dibohongi pemerintah DKI Jakarta dan ingin pembangunan apartemen tersebut dibatalkan.

“Pada 10 Februari 2008 warga digusur Satpol PP dan preman yang jumlahnya mencapai 1.500 orang. Mereka bilang lokasi ini akan dijadikan ruang terbuka hijau, tetapi tak lama kemudian malah membangun pintu masuk apartemen,” tandasnya.

Saat ini, keempat nenek tersebut masih terbaring lesu di sebuah gubuk. Entah sampai kapan aksi tersebut dilakukan. “Kami akan terus melakukan perlawanan. Kalau tidak digubris, kami akan melakukan aksi yang lebih ekstrem,” tukasnya.
 

Minggu, 19 Desember 2010

Le Mont Saint Michel, Impian Para Turis

KOMPAS.com - Dengan lebih dari 3 juta wisatawan setiap tahunnya, maka situs Le Mont Saint Michel menduduki urutan kedua yang paling banyak didatangi turis setelah kota Paris. Jadi bisa dibayangkan, kota Paris yang luas dan kaya dengan obyek wisata dibandingkan dengan satu situs maha karya yang berada di Normandi ini. Tak heran bila Le Mont Saint Michel merupakan impian setiap wisatawan agar bisa mengunjunginya.

Impian yang juga merupakan impian kami mengisi liburan. Sayangnya, si kecil Bazile tak bisa ikut dengan kami. Karena menurut orangtua Kang Dadang (David suami saya), situs ini selalu dibanjiri oleh lautan manusia setiap harinya. Tak ada istilah musim liburan atau tidak, situasinya selalu sama, padat akan turis dari berbagai penjuru, sehingga akan sulit bagi si bungsu untuk berjalan.

Alasan kedua, karena seringnya cuaca buruk dan sebagian besar jalanan di daerah itu tak memungkinkan bagi kami membawa kereta bayi. Kebanyakan harus dilakukan dengan berjalan kaki. Kesimpulan, Si Kasep tidak 
akan menikmati perjalanan wisatanya dan kami yang ada malah akan jadi lebih banyak mengurus Bazile ketimbang menikmati obyek wisata.
Dengan berat hati akhirnya Bazile kami titipkan pada nenek kakeknya yang datang bergabung bersama kami untuk liburan di Bretagne.
Benar saja, begitu kami mendekati situs Le Mont Saint Michel, hujan deras turun! Padahal udara sejak tadi begitu cerah. Dan ketika sampai di lapangan parkir, hujan semakin mengguyur saja. Kami tidak bisa keluar mobil karena tak mungkin berjalan menuju situs itu dengan cuaca sangat buruk.
Kami bertiga akhirnya memilih untuk menikmati piknik kami dalam mobil, dari pada nekad dan tak bisa berbuat apa-apa. Nasib mujur...begitu piknik kami selesai, udara cerah datang. Kami pun dengan cepat menggunakan kesempatan ini untuk mengunjungi obyek wisata impian kami.
Tapi kami tetap berhati-hati, jaket hujan tetap kami gunakan. Benar saja! Baru juga beberapa langkah dari mobil, lagi-lagi hujan deras turun mendadak. Begitu derasnya sampai sulit bagi kami melihat ke depan. Untung, Bazile tak kami ajak serta, sudah terbayang kerepotan yang akan kami hadapi menghadapi cuaca tak menentu itu, dan beberapa kali mata saya beradu dengan orangtua yang panik menghadapi anak-anak mereka yang masih balita karena meraung tak senang kebasahan dan takut melihat gelombang pasang.
Saat kami memasuki kota tua itu, matahari menyambut kami, hujan pun terhenti secara tiba-tiba dan lautan manusia menjadi pemandangan utama. Tak heran karena selain mendapatkan gelar sebagai situs maha karya oleh Unesco, terkenal juga sebagai tempat suci bagi umat Kristiani. Mengunjungi gerejanya merupakan sebuah perjalan ibadah keagamaan.  Tapi tak menghalang bagi umat bergama lainnya untuk mengunjungi dan mengaguminya.
Bicara sedikit mengenai Le Mont Saint Michel. Le Mont Saint Michel adalah sebuah daerah di Normandi, berbatasan dengan Bretagne. Namun yang menjadi tujuan utama para wisatawan adalah, pulau kecil dari karang raksasa yang merupakan kota tua dengan  gereja dan tempat para pendeta tinggal.
Kemegahan dan keindahan gereja serta bangunan tua yang masih dipertahankan membuat kita serasa memasuki abad pertengahan begitu menginjakan kaki ke dalam kota ini. Dan salah satu yang membuat Le Mont Saint Michel begitu terkenal karena situs ini dikelilingi oleh lautan, dengan pasang surut terbesar di Eropa.
Peletakan batu pertama dimulai pada tahun 709 oleh Uskup Aubert yang mendapatkan wahyu untuk membangun gereja di pulau seluas 208 hektar itu. Pembangunan yang terus berlanjut hingga akhir abad pertengahan. Sempat menjadi penjara di abad ke 19, kemudian di abad yang sama situs ini direnovasi dan pada saat perbaikan itulah ditambahkannya menara di ujung gereja yang menjadi simbol dari Le Mont Saint Michel.
Untuk menuju Gereja Mont Saint Michel, kita harus melewati kota tuanya. Bisa dengan mengikuti jalanan utama atau melalui  jalan-jalan kecil seperti gang sempit sebagai alternatif menuju gereja tersebut. Begitu banyaknya gang sempit yang bisa membawa kita hingga gereja, membuat kami akhirnya lebih memilih terlebih dahulu berjalan di jalanan utama. Baru kemudian turun dari gereja akan mencoba jalanan sempit yang menurut cerita banyak menyimpan misteri.
Sepanjang jalan utama kanan kirinya padat dengan butik cendera mata, restoran dan toko yang menjual makanan khas setempat khususnya kue gallette. Gallette dari Mont Saint Michel sangat laris manis sebagai oleh-oleh. Biskuit bulat dari tepung, gula dan mentega ini, memang sangat enak dan renyah dinikmati dengan kopi atau teh hangat. Dan hanya di Le Mont Saint Michel inilah terdapat restoran serta butik dari Mére Poulard, terkenal sebagai pembuat kue gallette nomor satu di Perancis.
Tapi ketika saya lihat harganya, sampai loncat mata saya membaca angka euros! Satu kotak kecil sekitar 15 euros dan beranjak hingga 40 euros. Harga yang mahal bagi kantong saya untuk satu kotak biskuit berisi 10 hingga 24 biji. Tapi memang kebanyakan pengunjung membelinya bukan hanya untuk kuenya tapi karena kotak kuenya yang unik dan cantik. Berbagai dekorasi menarik terlukis bagi si kotak berukuran 20x13 cm ini. Satu kotak biskuit akhirnya saya pilih, meskipun dengan berat hati mengeluarkan uangnya tapi sekarang saya tak menyesal membelinya karena kotak cantik itu saya gunakan sebagai tempat gula.
Setelah sempat tertahan karena lapar mata, akhirnya perjalanan kami lanjutkan. Menuju gereja dan tempat tinggal para pendeta. Kaki dipaksakan menanjak, karena bangunan bersejarah itu berada di atas bukit.
Ketika kami tiba di pintu masuk, wahhh...barisan manusia sudah sangat panjang memasuki gereja. Biasanya setiap kali kunjungan wisata, saya selalu masuk terlebih dahulu dengan memperkenalkan kartu pers saya. Tapi karena antrean begitu panjang saya jadi menunggu bersama suami dan anak.
Untungnya salah satu pintu bertuliskan, khusus rombongan, maka saya mencoba untuk mendatanginya dan menerangkan jika kedatangan saya juga sekaligus untuk meliput. Setelah proses kartu pers dan pengisian formulir selesai, suami serta anak membayar tiket masuk, maka kami memulai kunjungan ke dalam Gereja Mont Saint Michel.
Saran saya, sewalah audio guide. Karena selembaran petunjuk yang diberikan informasinya sangat sedikit. Untung saya bisa mendapatkan brosur khusus wartawan.
Kunjungan ke sini biasanya terbagi menjadi beberapa bagian. Tiga bagian terpenting mejadi pilihan kami. Kunjungan pertama kami yaitu mendatangi gerejanya yang bernama Gereja Abbatiale. Tempat ibadah inilah yang menjadi tujuan keagamaan bagi umat katolik.
Kunjungan kedua yaitu tempat para pendeta tinggal, yang dinamakan Abbaye du Mont Saint Michel. Yang terbagi menjadi dua bagian, yaitu Abbatiale dan La Merveille yang  menjadi tempat tinggalnya para pendeta. Dalam Abbaye ini, batu tua yang menjadi dinding kokoh dan tebal membuat diri merasa kecil dan asing. Ketika sampai di taman dan lorong tempat para pendeta, permainan cahaya dari jendela mozaik begitu mempesona.
Kaki saya terhenti ketika memasuki sebuah ruangan gelap dengan genangan air bagaikan sumber mata air yang dikelilingi dengan pilar raksasa. Serasa terkucil diri ini disitulah saya sempat kehilangan suami dan anak saya. Padahal sejak tadi mereka kami selalu bersama.
Terlalu misteri membuat saya mempercepat langkah kaki dan mencoba keluar dari ruangan tersebut berharap menemukan suami dan anak. Rupanya sejak tadi mereka masih berada di sana, tapi menurut mereka tiba-tiba saja saya tak terlihat lagi.
Kami pun segera menuju ruangan berikutnya yaitu Salle des Chevaliers yang juga marak oleh pilar-pilar dan jendela mozaik. Ruangan yang terang ini membuat hati kami yang sempat ciut menjadi segar kembali. Di sinilah bayangan saya beradu dengan gambaran yang sering terlihat dalam film tentang chevaliers (satria berkuda romawi). Tebayang bagaimana mereka dengan pakaian kesatriaannya dan pedang panjangnya.
Puas berhayal, kami melanjutkan mengungkap bangunan bersejarah ini dengan mendatangi bangunan Robert de Torigni, bangunan yang terwujudkan paling akhir tepatnya tahun 1154-1164. Di sinilah kita akan dibuat kagum oleh kincir raksasa antik yang dibangun sebagai pengangkut barang dari luar bangunan misalnya bahan makanan, ketika  Mont Saint Michel digunakan sebagai penjara.
Setelah ketiga bangunan kami kunjungan, maka yang tak boleh terlewatkan adalah berjalan kaki sepanjang dinding benteng. Mengelilingi benteng inilah kekaguman kami semakin berlipat, karena bisa melihat Abbaye Mont Saint Michel menjulang begitu megahnya. Zaman kini membangun gedung pencakar langit, bukan hal yang aneh lagi, tapi membayangkan bagaimana monumen bersejarah ini dibangun dengan tangan itulah yang membuat hati begitu terpesona. Apalagi pembangunan situs ini dilakukan karena kepercayaan seseorang kepada Tuhan.
Satu hal yang tak bisa luput dilakukan adalah berjalan kaki sepanjang pantai di sekeliling karang Mont Saint Michel. Pantai hitam pekat yang berkilau bagaikan lumpur dan busa yang menyerap kaki manusia. Kamera saya segera  merekam kemilau dari pantauan pasir hitam ini.
Saya merasa tak terlalu nyaman berjalan di atas pasir yang selalu menenggelamkan kedua kaki saya. Memang berjalan di atas pasir tempat air pasang surut merupakan pengalaman unik dan juga berbahaya. Berjalanlah tak jauh dari karang Mont Saint Michel itu pun hanya daerah tertentu. Karena di sini banyak terdapat pasir bergerak yang bisa membuat kita tenggelam karena tertelan pasir. Karena itu disarankan bagi yang ingin berjalan lama, menggunakan guide yang mengenal dengan pasti daerah tersebut.
Suami dan anak saya, keduanya berjalan di atas pasir tanpa bermasalah, bahkan anak-anak lainnya banyak yang memilih melepaskan pakaian untuk berguling-guling di atas pasir. Pasir yang langsung menjadi kering bagaikan lumpur kering membaluri tubuh mereka. Dan mereka pun terlihat begitu asik menikmatinya. Nyali saya kali itu tak terlalu besar, pikiran saya terlalu berkonsentrasi dengan gerakan pasir yang membuat saya takut.
Senja pun tiba...dan air mulai terlihat naik. Segera kami meninggalkan daerah tersebut karena air pasang bisa meluap dengan cepat dan sangat berbahaya.
Kota tua dengan gang sempit menjadi pilihan kami untuk turun dari pulau kecil itu dengan santai. Berbeda saat kami datang yang dipadati dengan butik kini bangunan tua menjadi dekorasi perjalanan kami, sangat menyenangkan diapit diantara tembok penuh sejarah.
Saat kami sedang menikmati jajanan sore hari berupa coklat hangat dan crepe mentega gula di cafe Mère Poulard, Adam anak sulung kami berkata bahwa di kota inilah dirinya merasa begitu terpesona dengan kota tua yang terhampar di matanya dan kemegahan dari bangunan yang telah dikunjunginya.
Adam merasakan seperti hidup di abad pertengahan. Adam mengakui dirinya merasa semakin kaya akan sejarah dan pengalaman. Kami juga merasakan hal yang sama pada saat itu.

Objek Wisata London

LONDON – Ibu kota Britania Raya, London, merupakan tempat yang sangat mengasyikkan karena memiliki banyak objek wisata menarik untuk dikunjungi. London-lah tempatnya bila Anda ingin menikmati segalanya saat berlibur. Wisata sejarah, arsitektur, pertunjukan kesenian kuno maupun kontemporer. Semua serba ada.  

Apa yang tidak ada di ibu kota Inggris tersebut? Ingin berkunjung ke berbagai macam istana dan bangunan-bangunan bersejarah? London biangnya. Bagi penggemar seni, bersiap-siaplah pusing menentukan tontonan teater, opera, dan pertujukan seni lainnya. Berbagai macam teater siap memuaskan pengunjung dari kalangan mana pun. Berbagai macam pertunjukan seni kontemporer nan aneh, mulai dari pertunjukan jalanan hingga gedung teater, dapat ditemui di London. 
Selanjutnya, Anda tidak perlu pusing memikirkan transportasi ke tempat-tempat wisata. Mulai dari bus, feri, hingga kereta bawah tanah super cepat siap membawa Anda menelusuri seluk-beluk kota London.
Lebih puas bila Anda naik bus wisata bertingkat yang tanpa atap, Hop On Hop Off. Cukup antre di halte yang ditentukan dan bayar 15 poundsterling (selanjutnya dibaca pound) kepada supir bus. Anda dapat seharian melihat keindahan tempat-tempat wisata dan bangunan-bangunan kuno di penjuru kota London. 
Selama perjalanan menggunakan Hop On Hop Off, seluruh penumpang akan mendapat penjelasan dari seorang pemandu wisata tentang tempat-tempat yang dilewati bus tersebut.
Tidak hanya itu, harga tiket bus sudah termasuk tiket mengarungi Sungai Thames selama 45 menit dengan menggunakan feri. Dari sungai bersejarah tersebut Anda dapat melihat keindahan Istana Westminster (yang kini digunakan sebagai gedung parlemen) beserta menara jam legendaris, Big Ben. 
Istana Westminster dengan menara jam Big Ben-nya dulu menjadi tempat tinggal para raja dan ratu sebelum akhirnya berubah fungsi menjadi gedung parlemen Inggris. 
Kendati tanpa dikenakan biaya, namun para pengunjung harus antre untuk mendapat tiket. Bila ingin menyaksikan rapat para anggota Majelis Tinggi (House of Lords) maupun Majelis Rendah (House of Commons), pengunjung harus sudah mendapat tiket, biasanya tujuh atau delapan pekan sebelumnya, dari para anggota parlemen. 
Selain itu para penumpang feri juga akan melihat keindahan Tower Bridge, jembatan dengan dua menara klasik yang dibangun pada abad ke-19. Bangunan-bangunan klasik lainnya, termasuk Tower of London, dapat Anda lihat dengan asyiknya saat mengarungi Sungai Thames. 

Mata di Langit
Ingin menikmati pemandangan luas kota London dari ketinggian langit? Dengan mengandalkan kocek sebesar 11,5 pound, pengunjung dapat menikmatinya dengan duduk di atas London Eye, kincir raksasa yang dibangun maskapai penerbangan British Airways.
Bila harga untuk duduk di atas London Eye terlampau mahal, penikmat London dapat menyaksikan pemandangan luas kota tersebut dengan mengunjungi menara kubah gedung St. Paul’s Cathedral. Cukup dengan kocek sebesar enam pound pengunjung juga dapat melihat kemegahan arsitektur gereja yang telah berdiri sejak hampir 1400 tahun yang lalu tersebut beserta nisan makam para pahlawan Inggris seperti Laksamana Nelson, dan Jenderal Wellington. 
Tidak kalah menariknya bila Anda berkunjung ke Madame Tussaud. Di tempat tersebut pengunjung dapat menemui ratusan tokoh terkenal dalam bentuk patung lilin.
Bagi Anda pecinta kebudayaan purbakala, British Museum tidak boleh dilewatkan. Museum megah yang hingga kini tidak dikenakan biaya masuk, menyimpan banyak peninggalan budaya bersejarah dari berbagai bangsa. Objek yang menarik perhatian para pengunjung museum tersebut yaitu banyaknya mumi asal Mesir yang dipajang di etalase berikut peti matinya. Salah satu mumi yang dipajang adalah jasad Cleopatra, ratu cantik nan kontroversial zaman Kerajaan Mesir.
Selain itu juga dapat dijumpai koleksi patung-patung bangsa Yunani dan Eropa pada zaman perunggu. 
Sebagai salah satu pusat kebudayaan modern, di London bertebaran gedung-gedung teater yang menyajikan berbagai macam pertunjukan. Mulai dari yang karya-karya klasik Shakespeare dan ”Les Miserables”-nya Victor Hugo hingga pertunjukan modern macam drama musikal kelompok musik The Queen berjudul ”We Will Rock You” dan ”Lion King.” 

Istana Ratu Elizabeth
Bukan ke London namanya, bila Anda tidak menengok kediaman resmi Ratu Elizabeth II di Istana Buckingham. Hanya pada waktu tertentu saja pengunjung bisa masuk ke istana yang dibangun pada abad ke-18 tersebut. Di musim panas tahun ini, pengunjung dapat masuk kompleks istana antara tanggal 12 Agustus hingga 29 September mendatang.
Sebelum melihat kemegahan Buckingham ada baiknya bila Anda berjalan kaki menyusuri The Mall. Di sebelah kanan jalan menuju Istana Buckingham tersebut terdapat taman kerajaan nan luas dan ramai dikunjungi umum, Hyde Park.
Jangan lupa setelah selesai berkunjung ke Istana Buckingham, buru-buru pergi ke Royal Horse Guards sebelum pukul 4 sore. Pada pukul tersebut para pengunjung dari dekat dapat melihat pergantian pasukan kerajaan berkuda. Di situ pula pengunjung dapat berfoto di samping pasukan kerajaan yang berdiri tegak dan tetap tabah sebagai objek foto para turis. 
Sebelum meninggalkan London, tentunya Anda ingin membeli kenang-kenangan untuk kerabat dan teman di rumah. Berbagai macam pusat perbelanjaan, mulai dari yang paling elegan seperti ”Harrod’s” sampai yang ”murah meriah” seperti di kawasan perbelanjaan Oxford Street dan Picadilly Circus, menyajikan berbagai cinderamata khas London dan Inggris.